Kamis, 16 April 2009

INDONESIA 2010 - NUSANTARA BARU




Hi... Ketemu Lagi Nich...

Aku dapat Tulisan Bagus Nich dari Mas Zaim Uchrowi. Dia Seorang Penulisa yang handal yang bisa menangkap inti dari sebuah kejaidan dan menuangkannya dalam tulisan yang enak dibaca dan Pas di hati..
Walaupun Tulisannya Sudah dimuat 1 Tahun Lalu, tapi Tetap Saja IDE nya Fresh untuk Diwujudkan..
Coba Aja Renungkan.... .







Republika, Jumat, 14 Maret 2008 ( Zaim Uchrowi ) :

Apa Yang Akan Anda Lakukan Kalau Menjadi Presiden Negeri Ini?

Ada hal sederhana yang tampaknya perlu dilakukan. Yakni, mengajak seluruh bangsa ini bersepakat. Nama negara ini perlu diganti. Nama Indonesia terasa sudah kurang segar. Kurang mampu memberi gairah, apalagi menggetarkan hati warganya. Nama Indonesia terasa lebih memenuhi keperluan legal formal. Bukan keperluan untuk dapat memberi nilai maknawi yang subtansial. Misalnya mendorong etos warganya.
Tidak setuju nama Indonesia diganti? Boleh-boleh saja. Ini bangsa dan negara demokrasi. Tapi dari berbagai percakapan informal dapat disimpulkan, umumnya kita menyetujui gagasan ini. Banyak alasan yang mendasarinya. Bukan sekadar persoalan suka atau tidak. Sebab nama harus memberi spirit. Nama perlu berjiwa. Spirit atau jiwa itulah yang dapat melentingkan penyandangnya untuk maju. Shakespeare bisa saja mengatakan “apalah arti sebuah nama.” Namun, untuk konteks kita sekarang, nama yang berspirit teramat penting. Tanpa spirit, tak akan ada kemajuan yang dapat diraih.
Kenyataan di masyarakat memperkuat kebutuhan itu. Mari kita tengok kasus Lapindo. Hingga kini urusan ini belum selesai. Belum pula ada skenario jelas bagaimana menyelesaikannya. Nasib para korbannya juga masih banyak terbengkalai. Tengok pula nasib petani kita. “Saya tak tahu lagi harus berbuat apa,” ujar Suprapto, seorang advokat petani. “Saya akan bakar saja gabah di DPR dan istana.”
Sebuah ungkapan kesal yang masuk akal. Sampai sekarang kita juga tak punyak skenario jelas buat mengangkat nasib petani. Sama tak jelasnya dengan alternatif solusi bagi berbagai krisis lainnya.
Banjir di berbagai daerah masih akan berulang dan berulang. Krisis pangan, seperti daging, kedelai, atau minyak goreng baru-baru ini, berpotensi lebih sering terjadi. Belum lagi krisis energi. Harga BBM sudah jelas naik. Listrik mulai padam. Minyak tanah susah. Listrik tenaga nuklir yang seharusnya sudah terwujud. Keuangan negara ikut tergoyang. Hingga muncul gagasan yang tidak lazim: Menyewakan hutan lindung buat ditambang. Apa solusi dari semua persoalan itu? Kita cenderung hanya akan menggelengkan kepala. Kita, bangsa ini, tengah sakit.
Tentu kita tetap harus tersenyum, bersyukur, dan ikhlas. Itu modal utama buat bangkit. Namun sakit juga harus diobati. Sedangkan obat, kata Ibnu Sina, bukan saja yang berbentuk material dengan mekanisme yang dapat dijelaskan secara rasional. Obat yang menyembuhkan juga harus mencakup jiwa. Harus ada intervensi jiwa buat melahirkan “formula kesembuhan” .
Intervensi jiwa atau spirit begitu penting buat kesembuhan. Apalagi di saat obat material yang rasional belum dapat terlihat secara jelas. Seperti yang kita hadapi sekarang ini.
Pada beberapa masyarakat tradisional ada kearifan. Yakni saat seorang anak sakit berkepanjangan. Berbagai macam obat tak mampu mengatasinya. Maka orang tuanya akan mengganti nama sang anak. Tradisi itu seperti tak bernalar. Mana mungkin sakit diatasi dengan ganti nama. Tapi, umumnya terbukti anak akan menjadi lebih sehat.
Ada suasana baru, ada spirit baru. Itulah yang menyehatkan. Prinsip itu serupa dengan pendekatan komunikasi pemasaran. Ada “siklus hidup” produk. Sebelum mencapai tahap “dewasa” yang kemudian menurun, produk perlu disegarkan. Banyak cara buat menyegarkan. Produk Amway, misalnya, disegarkan dengan bendera baru Network-21. Hal serupa terjadi pada ranah publik. Kota Bombai, misalnya, sekarang ganti nama menjadi Mumbai.
Lalu mengapa ragu melakukan itu pada Indonesia? Nama Indonesia bukan sekadar tak berakar, namun jujga tak berjiwa. Apalagi sudah sangat banyak yang terluka oleh nama Indonesia. Politik masa lalu yang menjadi penyebabnya. Kita juga punya pilihan nama yang lebih baik: Nusantara. Sebuah nama yang berakar panjang pada tanah dan manusia di kepulauan khatulistiwa ini.
Bernard Vlekke, penulis sejarah yang sangat lengkap tentang bangsa kita, pun memberi judul bukunya Nusantara. Bukan Indonesia. Dengan menjadi Republik Nusantara, tak akan ada lagi tetangga yang mengejek kita dengan sebutan “orang orang Indon“. Kita juga akan lebih antusias menyanyikan lagu kebangsaan “Nusantara Raya merdeka-merdeka! ”
Antusiasme inilah yang akan membuka langkah- langkah baru buat bangkit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar